cat jump

Selasa, 11 Januari 2011


TATI
092121133, II D
(my story)
Siang itu aku bertemu dengan nya di suatu persimpangan jalan, sosok tinggi dan berkulit sawo matang menyapaku dengan penuh keangkuhan
Nunggu angkot? Tanyanya sambil mendelik.
Aku menatap wajahnya di bawah sinar matahari yang tepat sejajar berada di atas kepalaku, dengan penuh kepolosan aku menjawab: ya! kataku.
Kejadian itu merupakan awal pertama aku disapanya yang kemudian dengan tanpa sengaja aku dengan nya menjadi lebih sering bertemu dan saling menyapa.
Singkat kata pada suatu malam pun kami tanpa sengaja duduk berdua di sebuah tempat duduk di pinggir lapangan desa tempat kami tinggal. Tanpa ada dialog diantara kami sepatah atau dua patah katapun yang menunjukan ke akraban atau tanda bahwa kami saling mengenal. Saat itu aku sudah mengetaui dia mempunyai pacar dan pacar nya pun adalah kaka kelas ku, begitu juga dengan dia yang mengetaui bahwa aku adalah pacar dari saudaranya.
Setelah kejadian malam itu hubungan diantara kami menjadi sedikit lebih baik dan sedikit lebih dekat  dan terkadang kami pun saling menyapa dengan keramahan dan senyuman lebar yang keluar dari bibir kami yak tak seperti biasanya.
Hari berikutnya tak lama setelah kejadian itu perasaan ku sedikit tak karuan dia yang tak pernah aku sangka menelpon ku dengan kata-kata lembut dan penuh dengan kesopanan dia menanyakan kabarku dan menanyakan hubungan ku dengan saudaranya itu. Dengan perlahan aku menjawab sambil berfikir apa jawaban ku itu akan membuatnya sakit hati, senang, ataukah akan seperti apa?. Disana aku mengaku kalau aku sudah putus dengan saudaranya itu dengan maksud agar dia terus mendekatiku dengan lambat laun akan menyukaiku sesuai dengan apa yang aku harapkan. Waktu itu aku benar-benar bodoh  aku tak pernah memikirkan apa akibat buruk dari kedekatan kami ini, yang ada dalam benak ku, aku akan merasa bahagia seandainya aku menjadi pacar nya.
Singkat cerita............
 Pagi berikutnya pun dia menelpon kembali dengan alasan dia ingin membangunkan untuk sekedar mengingatkan ku agar segera melakukan ibadah pagi yang sering aku lakukan. Aku terasa melambung tinggi karena mendapatkan sedikit perhatian dari nya. Kini dia menjadi sering menelpon ku dan menjadi sangat ramah dan sangat baik saat kami tanpa sengaja bertemu.
Malam berikutnya dia menelpon ku dia mengajak ku ketemuan, dia bilang dia akan menjemputku sore besok! Katanya. Hingga tiba pada saat nya yaitu pada suatu sore yang sudah lama aku tunggu-tunggu, dia datang menjemputku sesuai dengan janji yang sudah kami buat, sore itu tiba-tiba saja kami seperi orang yang sudah lama kenal dan sudah lama akrab, berbincang, bercanda, dan bahkan sesekali berlaku mesra seperti layaknya seorang kekasih.
Banyak janji yang sudah kami atur untuk bertemu, hingga tanpa sadar pada diri kami terasa rindu saat kami beberapa hari tak dapat bertemu, merasa ada yang hilang saat aku tak dapat mendengar suaranya.
Aku sadar apa yang aku lakukan ini salah, di tengah-tengah kebahagian kami ada orang-orang yang tersakiti yaitu pacarku dan pacarnya. Namun apa yang harus aku perbuat selanjutnya aku tak pernah tau........... yang aku tau aku merasa sangat bahagia  dan merasa nyaman saat aku berada di sampingnya tak seperti apa yang aku rasakan saat aku berada di dekat pacarku.
Hingga tiba pada suatu hari aku dikejutkan dengan beberapa pertanyaan yang sangat membuat kepalaku pusing namun di tengah-tengah perbincangan kami itu terselip beberapa kata yang membuat hati dan perasaanku berbunga-bunga sungguh saat itu aku merasa sangat bahagia, dia mengungkapkan perasaannya bahwa dia mencintai ku, tanpa berfikir panjang aku langsung mengiakan ungkapan cintanya itu. Aku bodoh dan memang sangat bodoh aku langsung memutuskan pacar lamaku  tanpa alasan yang jelas, begitu pun dengan nya, dia mengaku bahwa ia sudah lebih dulu memutuskan pacar lamanya itu.
Hari-hari ku akhir-akhir ini menjadi lebih indah dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya semua menjadi terasa indah dan ringan aku jalankan, kami bahagia dengan hubungan kami ini. Namun jalan tak selanya lurus terkadang ada belokan ataupun pemberhentian yang mengejutkan.
Di tengah perjalanan hubungan kami, tiba-tiba saja orng tua ku dan orang tua nya tak menyetujui hubungan ku ini mereka sama-sama menentang. Aku tak tau apa alasan mereka seperti itu, terkadang aku merasa putus asa dengan kondisi sepert ini yang makin hari mereka semakin menunjukan ketidak sukaannya dengan hubunganku ini. Sesekali mereka menyuruh ku memutuskan dia namun aku tak pernah bisa aku yang terlanjur menyayangi dan mempercayainya aku tetap mempertahankan hubungan ku ini.
Hingga pada suatu ketika aku menumukan pesan yang sedikit aneh di handpon pacarku, aku merasa sedikit syhok oranag yang selama ini aku percaya ternyata menghianatiku dia ada main dengan wanita lain di belakangku, sepontan aku marah aku kecewa dengan apa yang ia lakukan, seperti wanita-wanita lainnya aku hanya bisa menangis aku benar-benar kecewa dan sungguh aku tak pernah menyangka dia akan setega itu menyakiti perasaanku. Aku menyuruhnya pergi aku tak bisa memaafkannya, orang yang benar-benar aku sayangi selama ini ternyata menghianatiku. Hatiku hancur namun aku tak bisa membohongi perasaan ku ini aku masih menyayangi nya aku masih mengharapkan kehadiran nya. Semua orang bilang aku bodoh tapi aku tak pernah peduli yang aku tau aku tak bisa meninggalka                                   nnya.
Hari berikutnya dia mendatangiku dan menjelaskan semuanya, meski hati ini sakit atasa apa yang sudah ia lakukan  tapi setelah aku mendengarkan ceritanya dan mendengarkan permohonan maafnya aku tak bisa menoalak, aku tak sanggup melihat nya menangis dan bersujud di kaki ku. Aku memaafkan dan menerimanya kembali. Memang dalam beberapa minggu ini aku masih merasakan rasa sakit atas apa yang sudah ia lakukan namun ya sudah lahhhh semua itu hanya masalalu dan aku yakin dia bisa menjaga kepercayaan ku dan aku yakin dia tidak akan mengulangi kesalahannya itu.
Di pertengahan tahun aku melanjutkan studi ku ke salah satu universitas suasta yang ada di kotaku. Hari pertama aku disana sudah pasti aku merasa asing dengan lingkungan ku yang baru, aku hidup sendiri semuanya aku lakukan sendiri. Tiap malam aku menangis aku merasa kangen dengan kluargaku, aku selalu teringat dengan kekasihku dengan semua yang sering kami lakukan, keluarga ku melarangku memberitau tempat tinggalku sekarang kepada dia. Jujur aku tersiksa dengan keadaanku seperti ini, setiap pesan yang aku baca ia hanya bisa memarahiku karena aku terkadang tak sempat memberi nya kabar atau tak sempat membalas pesan-pesan yang ia kirimkan untuk ku karena kesibukanku, aku mengerti mungkin dia kecewa dengan perubahan ku saat itu aku mengerti perasaan nya, namun apa yang bisa aku lakukan? Aku selalu berusaha untuk selalu memberinya kabar dan sesekali menelponnya untuk memjelaskan kepadanya kalau di sini aku benar-benar kelelahn dengan semua rutinitasku.
Setiap aku mendengar dia marah, dia membentaak ku dengan kata-kata kasar. Hati ini sakit, hati ini hancur tapi aku tetap saja diam tanpa bisa membalas atau mengungkapkan apa yang sebenarnya aku rasa saat ia bilang dia benci aku yang sekarang. Aku tak mau mendengarnya menangis aku tak mau mendengar dia sedih, selama itu aku selalu diam aku selalu menerima cacian makian kata-kata kasarnya yang ia tujukan kepadaku. Namun sabar itu ada batasnya, hingga pada suatu hari dia menelpon ku yang seperti biasa, dia membentakku dan memarahiku, aku sudah tak sanggup aku merasa lelah dengan semua ini, aku yang tak sadar, aku tak pernah mengerti kenapa pada saat itu aku berani balik membentak nya, aku marah, aku menjelaskan semuanya sambil menangis, aku tau selama aku berhubungan dengannya aku tak pernah berani berkata-kata seperti itu.
Beberapa bulan kemudian........
dia aku beritau alamatku dengan sembunyi-senbunyi dari orang tua yaitu alamat ku yang sekarang dan dia langsung menemuiku, aku tak sanggup menahan air mata ku, aku tak kuat melihat nya badan nya kurus tak seprti saat aku dulu meninggalkannya aku langsung memeluknya dan sungguh hari itu aku merasa sangat bahagia  karena sekian lama aku tak bertemu dan akhirnya kami bertemu. Aku sedih aku sudah membuatnya menderita tapi aku tak bermaksud seperti itu aku menyyangi nya lebih dari aku menyayangi diriku sendiri aku selalu ingin melihat dia tersenyum manis aku selalu ingin membuatnya bahagia aku selalu berusaha namun aku tak pernah bisa. Saat itu aku menyerah aku sudah tak bisa mempertahankan hubungan ku ini, aku tak sanggup, akhir-akhir ini perkataanya makin hari semakin kasar.
Pada suatu sore aku minta putus darinya namun dia tak biasa menerima itu, yang ahirnya tangan nya pun mendarat di pipiku percis di pipi kiri ku tak cukup dengn satu tamparan dia melakukanya sampai tiga kali berturut-turut. Aku menunduk aku tak berani menatap wajahnya tamparannya tak begitu sakit namun hati ini yang lebih merasakan rasa sakitnya, aku merasa terhina dengan perlakuan kasarnya. Aku benar-benar sudah tak tahan dengan perlakuan kasarnya itu aku lelah benar-benar lelah..........